Diberdayakan oleh Blogger.
RSS

PENYAKIT HEPATITIS

MACAM MACAM PENYAKIT HEPATITIS

Penyakit Hepatitis adalah penyakit yang disebabkan oleh beberapa jenis virus yang menyerang dan menyebabkan peradangan serta merusak sel-sel organ hati manusia. Hepatitis diketegorikan dalam beberapa golongan, diantaranya hepetitis A,B,C,D,E,F dan G. Di Indonesia penderita penyakit Hepatitis umumnya cenderung lebih banyak mengalami golongan hepatitis B dan hepatitis C. namun disini kita akan membahas pada fokus artikel penyakit Hepatitis A,B dan C.
  • Penyakit Hepatitis A
    Hepatitis A adalah golongan penyakit Hepatitis yang ringan dan jarang sekali menyebabkan kematian, Virus hepatitis A (VHA=Virus Hepatitis A) penyebarannya melalui kotoran/tinja penderita yang penularannya melalui makanan dan minuman yang terkomtaminasi, bukan melalui aktivitas sexual atau melalui darah. Sebagai contoh, ikan atau kerang yang berasal dari kawasan air yang dicemari oleh kotoran manusia penderita. Penyakit Hepatitis A memiliki masa inkubasi 2 sampai 6 minggu sejak penularan terjadi, barulah kemudian penderita menunjukkan beberapa tanda dan gejala terserang penyakit Hepatitis A.
    1. Gejala Hepatitis A
    Pada minggu pertama, individu yang dijangkiti akan mengalami sakit seperti kuning, keletihan, demam, hilang selera makan, muntah-muntah, pusing dan kencing yang berwarna hitam pekat. Demam yang terjadi adalah demam yang terus menerus, tidak seperti demam yang lainnya yaitu pada demam berdarah, tbc, thypus, dll.
    2. Penanganan dan Pengobatan Hepatitis A
    Penderita yang menunjukkan gejala hepatitis A seperti minggu pertama munculnya yang disebut penyakit kuning, letih dan sebagainya diatas, diharapkan untuk tidak banyak beraktivitas serta segera mengunjungi fasilitas pelayan kesehatan terdekat untuk mendapatkan pengobatan dari gejala yang timbul seperti paracetamol sebagai penurun demam dan pusing, vitamin untuk meningkatkan daya tahan tubuh dan nafsu makan serta obat-obatan yang mengurangi rasa mual dan muntah.
    Sedangkah langkah-langkah yang dapat diambil sebagai usaha pencegahan adalah dengan mencuci tangan dengan teliti, dan suntikan imunisasi dianjurkan bagi seseorang yang berada disekitar penderita.
  • Penyakit Hepatitis B
    Hepatitis B merupakan salah satu penyakit menular yang tergolong berbahaya didunia, Penyakit ini disebabkan oleh Virus Hepatitis B (VHB) yang menyerang hati dan menyebabkan peradangan hati akut atau menahun. Seperti hal Hepatitis C, kedua penyakit ini dapat menjadi kronis dan akhirnya menjadi kanker hati. Proses penularan Hepatitis B yaitu melalui pertukaran cairan tubuh atau kontak dengan darah dari orang yang terinfeksi Hepatitis B. Adapun beberapa hal yang menjadi pola penularan antara lain penularan dari ibu ke bayi saat melahirkan, hubungan seksual, transfusi darah, jarum suntik, maupun penggunaan alat kebersihan diri (sikat gigi, handuk) secara bersama-sama. Hepatitis B dapat menyerang siapa saja, akan tetapi umumnya bagi mereka yang berusia produktif akan lebih beresiko terkena penyakit ini.
    1. Gejala Hepatitis B
    Secara khusus tanda dan gejala terserangnya hepatitis B yang akut adalah demam, sakit perut dan kuning (terutama pada area mata yang putih/sklera). Namun bagi penderita hepatitis B kronik akan cenderung tidak tampak tanda-tanda tersebut, sehingga penularan kepada orang lain menjadi lebih beresiko.
    2. Penanganan dan Pengobatan Hepatitis B
    Penderita yang diduga Hepatitis B, untuk kepastian diagnosa yang ditegakkan maka akan dilakukan periksaan darah. Setelah diagnosa ditegakkan sebagai Hepatitis B, maka ada cara pengobatan untuk hepatitis B, yaitu pengobatan telan (oral) dan secara injeksi.
    a. Pengobatan oral yang terkenal adalah ;
    - Pemberian obat Lamivudine dari kelompok nukleosida analog, yang dikenal dengan nama 3TC. Obat ini digunakan bagi dewasa maupun anak-anak, Pemakaian obat ini cenderung meningkatkan enzyme hati (ALT) untuk itu penderita akan mendapat monitor bersinambungan dari dokter.
    - Pemberian obat Adefovir dipivoxil (Hepsera). Pemberian secara oral akan lebih efektif, tetapi pemberian dengan dosis yang tinggi akan berpengaruh buruk terhadap fungsi ginjal.
    - Pemberian obat Baraclude (Entecavir). Obat ini diberikan pada penderita Hepatitis B kronik, efek samping dari pemakaian obat ini adalah sakit kepala, pusing, letih, mual dan terjadi peningkatan enzyme hati. Tingkat keoptimalan dan kestabilan pemberian obat ini belum dikatakan stabil.
    b. Pengobatan dengan injeksi/suntikan adalah ;
    Pemberian suntikan Microsphere yang mengandung partikel radioaktif pemancar sinar ß yang akan menghancurkan sel kanker hati tanpa merusak jaringan sehat di sekitarnya. Injeksi Alfa Interferon (dengan nama cabang INTRON A, INFERGEN, ROFERON) diberikan secara subcutan dengan skala pemberian 3 kali dalam seminggu selama 12-16 minggu atau lebih. Efek samping pemberian obat ini adalah depresi, terutama pada penderita yang memilki riwayat depresi sebelumnya. Efek lainnya adalah terasa sakit pada otot-otot, cepat letih dan sedikit menimbulkan demam yang hal ini dapat dihilangkan dengan pemberian paracetamol.
    Langkah-langkah pencegahan agar terhindar dari penyakit Hepatitis B adalah pemberian vaksin terutama pada orang-orang yang beresiko tinggi terkena virus ini, seperti mereka yang berprilaku sex kurang baik (ganti-ganti pasangan/homosexual), pekerja kesehatan (perawat dan dokter) dan mereka yang berada didaerah rentan banyak kasus Hepatitis B.
  • Penyakit Hepatitis C
    Penyakit Hepatitis C adalah penyakit hati yang disebabkan oleh virus Hepatitis C (VHC). Proses penularannya melalui kontak darah {transfusi, jarum suntik (terkontaminasi), serangga yang menggiti penderita lalu mengigit orang lain disekitarnya}. Penderita Hepatitis C kadang tidak menampakkan gejala yang jelas, akan tetapi pada penderita Hepatitis C kronik menyebabkan kerusakan/kematian sel-sel hati dan terdeteksi sebagai kanker (cancer) hati. Sejumlah 85% dari kasus, infeksi Hepatitis C menjadi kronis dan secara perlahan merusak hati bertahun-tahun. 1. Gejala Hepatitis C
    Penderita Hepatitis C sering kali orang yang menderita Hepatitis C tidak menunjukkan gejala, walaupun infeksi telah terjadi bertahun-tahun lamanya. Namun beberapa gejala yang samar diantaranya adalah ; Lelah, Hilang selera makan, Sakit perut, Urin menjadi gelap dan Kulit atau mata menjadi kuning yang disebut “jaundice” (jarang terjadi). Pada beberapa kasus dapat ditemukan peningkatan enzyme hati pada pemeriksaan urine, namun demikian pada penderita Hepatitis C justru terkadang enzyme hati fluktuasi bahkan normal.
    2. Penanganan dan Pengobatan Hepatitis C
    Saat ini pengobatan Hepatitis C dilakukan dengan pemberian obat seperti Interferon alfa, Pegylated interferon alfa dan Ribavirin. Adapun tujuan pengobatan dari Hepatitis C adalah menghilangkan virus dari tubuh anda sedini mungkin untuk mencegah perkembangan yang memburuk dan stadium akhir penyakit hati. Pengobatan pada penderita Hepatitis C memerlukan waktu yang cukup lama bahkan pada penderita tertentu hal ini tidak dapat menolong, untuk itu perlu penanganan pada stadium awalnya.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS
Read User's Comments0

cholesterol

Cholesterol, from the Greek chole- (bile) and stereos (solid) followed by the chemical suffix -ol for an alcohol, is an organic chemical substance classified as a waxy steroid of fat. It is an essential structural component of mammalian cell membranes and is required to establish proper membrane permeability and fluidity.
In addition to its importance within cells, cholesterol is an important component in the hormonal systems of the body for the manufacture of bile acids, steroid hormones, and vitamin D. Cholesterol is the principal sterol synthesized by animals; in vertebrates it is formed predominantly in the liver. Small quantities are synthesized in other cellular organisms (eukaryotes) such as plants and fungi. It is almost completely absent among prokaryotes, i.e. bacteria.
Although cholesterol is important and necessary for human health, high levels of cholesterol in the blood have been linked to damage to arteries and cardiovascular diseaseFrançois Poulletier de la Salle first identified cholesterol in solid form in gallstones, in 1769. However, it was only in 1815 that chemist Eugène Chevreul named the compound "cholesterine".

 


Physiology

Since cholesterol is essential for all animal life, it is primarily synthesized from simpler molecules within each cell, a complex 37 step process which starts with the intracellular protein enzyme HMG-CoA reductase. However, normal and especially high levels of fats (including cholesterol) within the blood circulation, depending on how it is transported within lipoproteins, are strongly associated with progression of atherosclerosis.
For a person of about 68 kg (150 pounds), typical total body cholesterol synthesis is about 1 g (1,000 mg) per day, and total body content is about 35 g, primarily located within all the membranes of all the cells of the body. Typical daily dietary intake of additional cholesterol, in the United States, is 200–300 mg.However, most ingested cholesterol is esterified and esterified cholesterol is poorly absorbed. The body also compensates for any absorption of additional cholesterol by reducing cholesterol synthesis. For these reasons, cholesterol intake in food has little, if any, effect on total body cholesterol content or concentrations of cholesterol in the blood.
Cholesterol is recycled. It is excreted by the liver via the bile into the digestive tract, in a non-esterified form. Typically about 50% of the excreted cholesterol is reabsorbed by the small bowel back into the bloodstream.
If a person eats only plant based food, typical daily intake of cholesterol is zero. Plants do not make cholesterol, thus contain no cholesterol. However, with no intake, internal synthesis of cholesterol increases. Thus, again, quantity of cholesterol intake typically has little to no effect on body cholesterol content or blood cholesterol levels.
Plants manufacture phytosterols (substances chemically similar to cholesterol produced within plants), which can compete with cholesterol for reabsorption in the intestinal tract, thus potentially reducing cholesterol reabsorption.However, phytosterols are foreign to animal cells and, if absorbed, accelerate the progression of atherosclerosis. When intestinal lining cells absorb phytosterols, in place of cholesterol, they usually excrete the phytosterol molecules back into the GI tract, an important protective mechanism.

Function

Cholesterol is required to build and maintain membranes; it modulates membrane fluidity over the range of physiological temperatures. The hydroxyl group on cholesterol interacts with the polar head groups of the membrane phospholipids and sphingolipids, while the bulky steroid and the hydrocarbon chain are embedded in the membrane, alongside the nonpolar fatty acid chain of the other lipids. Through the interaction with the phospholipid fatty acid chains, cholesterol increases membrane packing, which reduces membrane fluidity In this structural role, cholesterol reduces the permeability of the plasma membrane to neutral solutes, protons, (positive hydrogen ions) and sodium ions .Within the cell membrane, cholesterol also functions in intracellular transport, cell signaling and nerve conduction. Cholesterol is essential for the structure and function of invaginated caveolae and clathrin-coated pits, including caveola-dependent and clathrin-dependent endocytosis. The role of cholesterol in such endocytosis can be investigated by using methyl beta cyclodextrin (MβCD) to remove cholesterol from the plasma membrane. Recently, cholesterol has also been implicated in cell signaling processes, assisting in the formation of lipid rafts in the plasma membrane. Lipid raft formation brings receptor proteins in close proximity with high concentrations of second messenger molecules.In many neurons, a myelin sheath, rich in cholesterol, since it is derived from compacted layers of Schwann cell membrane, provides insulation for more efficient conduction of impulses.Within cells, cholesterol is the precursor molecule in several biochemical pathways. In the liver, cholesterol is converted to bile, which is then stored in the gallbladder. Bile contains bile salts, which solubilize fats in the digestive tract and aid in the intestinal absorption of fat molecules as well as the fat-soluble vitamins, A, D, E, and K. Cholesterol is an important precursor molecule for the synthesis of vitamin D and the steroid hormones, including the adrenal gland hormones cortisol and aldosterone, as well as the sex hormones progesterone, estrogens, and testosterone, and their derivatives.
Some research indicates cholesterol may act as an antioxidant.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS
Read User's Comments0

MANFAAT DAUN JATI CINA

Daun Jati Cina (Teh Pelangsing Tubuh) - Daun Senna

Daun Jati Cina  (Teh Pelangsing Tubuh) - Daun Senna

DAUN JATI CINA atau lebih dikenal DAUN SENNA

Daun Senna (daun jati cina) umumnya dikenal sebagai senna atau Alexandria senna, dan nama ilmiahnya adalah Cassia angustifolia. Senna telah digunakan sejak abad ke-9 oleh dokter Arab sebagai pencahar dan telah dikenal sebagai "ramuan pembersihan. Serapion dan Sesue yang kemudian memberinya nama dalam bahasa Arab dan menggunakannnya sebagai laxative atau obat pencahar.

Senna adalah tumbuhan semak yang tumbuh hingga tiga meter dan memiliki tangkai berwarna hijau, dengan daun yang halus kelabu-hijau daun, dan berbentuk lonjong. Senna tumbuh di daerah iklim tropis Afrika Utara, India, Pakistan, Mesir dan Sudan.

Adapun khasiat dari tanaman senna atau jati cina, daun jati cina adalah:

  • Mengurangi kolesterol, apabila anda makan yang kaya akan karbohidrat dan kolesterol tinggi minumlah teh ini.
  • Akan membersihkan sisa-sisa kotoran pada usus anda. Sehingga kotoran pada usus yang sudah lama dan melekat akan terbuang melalui BAB.
  • Teh Daun Jati Cina ini cocok bagi pria dan wanita yang memiliki kelebihan berat badan.

Cara Penggunaan Teh Jati Cina :

a). Teh daun jati cina ini dalam bentuk kering sehingga perlu diseduh dengan air panas apabila anda ingin kental tambahkan air panas 200 ml
b). Tutup dan diamkan selama 15 menit. Kental atau tidaknya teh tergantung banyaknya teh yang diseduh. Ambil saja 2 jumput teh dengan tangan atau 2 sendok makan.
c). Apabila anda ingin buang air seni lancar makan tambahkan 200ml lagi tidak usah dengan air panas dengan catatan setelah seduhan 200 ml sebelumnya sudah mengental baru tambahkan air.

Beberapa hal yang diperhatikan:

a). Apabila anda menderita masalah pencernaan disarankan minum teh 2 hari sekali saja.
b). Tidak disarankan minum teh daun jati cina apabila sedang haid, alasannya kebanyakan wanita mengalami PMS syndrom dengan perut kembung, otot perut terasa kencang, apabila anda minum teh daun jati cina akan menambah ketidaknyamanan anda dalam masa menstruasi.
c). Apabila anda masih baru atau belum pernah minum teh daun jati cina ini, maka penyeduhannya jangan terlalu kental. Teh diseduh dengan air panas 400ml karena biasanya lemak akan luntur bersama air seni sebelum BAB. Karena reaksi tiap orang berbeda,apabila kurang bereaksi maka penyajiannya teh bisa dikentalkan.
d). Biasanya teh daun jati cina ini bereaksi minimal 7 jam, jadi sebaiknya minumlah sebelum tidur malam hari sehingga pagi hari anda lancar BAB, dan tidak mengganggu kegiatan anda keesokan harinya.
e). Apabila anda mengalami BAB yang berlebihan , sebaiknya hentikan atau kurangi dosis pemakaian.

FARMAKOLOGI KLINIK

Waktu aksi senna berkisar antara 8-10 jam, sehingga sebaiknya diminum pada waktu malam. Senosida dapat menghilangkan keluhan konstipasi pasien (irritable bowel syndrome). Pada dosis terapi tidak ditemukan adanya gangguan kebiasaan waktu defekasi; dapat melunakkan tinja dan meningkatkan kecepatan transit makanan dalam kolon melalui peningkatan gerakan peristaltik. Senosida sedikit diserap pada bagian atas saluran gastrointestinal.

MANFAAT MEDIS

  1. Pencahar untuk mengatasi sembelit/konstipasi, ambeien, setelah operasi rectal anal, pengosongan lambung sebelum foto rontgent,
  2. Antiinflammatory (anti bengkak)
  3. Regenerasi Sel
  4. Obat cuci perut (colon cleansing)
  5. Detoksifikasi

DOSIS

1-2 gram irisan daun kering dilarutkan dalam 150 ml air panas lalu di minum. Untuk konstipasi diminum saat malam hari sebelum tidur atau pagi hari. Dosis harian rata-rata sebagai laksatif 10-30 mg hidroksiantrakinon

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS
Read User's Comments0

CARA MENGHILANGKAN JERAWAT

Cara Ampuh Menghilangkan Jerawat. Perlu diketahui bahwa jerawat ialah suatu kondisi dimana lubang pori-pori kulit mengalami penyumbatan yang berakibat pada timbulnya peradangan. Peradangan ini biasanya menyebabkan munculnya kantung nanah pada bagian kulit terutama wajah. Penyebab jerawat umumnya adalah perubahan hormonal yang merangsang produksi kelenjar minyak berlebih di kulit, sel kulit mati, bakteri, kosmetik, dan efek obat-obatan. Biasanya jerawat banyak timbul pada usia remaja, namun tidak tertutup kemungkinan juga menyerang orang dewasa.

Cara Ampuh Menghilangkan Jerawat. Penyakit yang satu ini kerap membuat penderitanya tidak pecaya diri, karena bagian wajah ternoda oleh benjolan kecil berwarna merah dan kuning. Rasa tidak percaya diri tersebut tidak jarang mengakibatkan si penderita tidak sabaran untuk menghilangkan jerawat di wajahnya melalui jalan pintas, yakni memecahnya dengan kuku tangan. Padahal hal tersebut dapat mengakibatkan bekas jerawat berwarna hitam yang sudah untuk dihilangkan.


Untuk menghindari atau mengobati kulit wajah penuh jerawat, perlu Cara Ampuh Menghilangkan Jerawat agar tidak merebak ke bagian wajah lainnya. Mula-mula anda harus mengetahui larangan-larangan yang harus dihindari penderita jerawat, karena menangani jerawat tidak boleh asal-asalan.

Cara Merawat Wajah Berjerawat

Untuk menghindari agar jerawat tidak bertambah banyak, penderita jerawat harus benar-benar komitmen melaksanakan tips merawat wajah berjerawat berikut ini:
  • Jangan terlalu sering menyentuh atau memegang bagian jerawat karena tangan adalah bagian tubuh yang penuh dengan bakteri. Sering menyentuh jerawat dapat mengakibatkan jerawat tumbuh subur. Walau berat, cobalah menghindari hasrat untuk menyentuh wajah.
  • Jangan memecah jerawat, apalagi keadaan jerawat masih baru tumbuh, karena hal ini dapat menyebabkan peradangan kulit dan menyebabkan noda hitam bekas jerawat.
  • Usahakan untuk selalau menjaga agar kulit wajah selalu bersih dari kotoran, baik pagi, sore, dan malam hari yang cocok dengan kondisi kulit.
  • Hindari pemakaian bahan perias wajah atau kosmetik sebelum tidur.

Cara Menghilangkan Jerawat dengan Obat Alami

Banyak tips cara mengatasi jerawat, salah satunya dengan menggunakan obat alami yang berasal dari tumbuh-tumbuhan. Berikut cara ampuh menghilangkan jerawat dengan obat alami:
  • Siapkan 2 atau 3 lembar daun pepaya yang sudah tua
  • Jemur daun pepaya hingga kering.
  • Campurlah daun pepaya tersebut dengan air secukupnya, lalu dilumatkan dan diperas untuk diambil sarinya.
  • Oleskan sari daun pepaya tersebut pada jerawat.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS
Read User's Comments0

REPLIKASI DNA

Replikasi DNA


Replikasi DNA yang terjadi, disebut replikasi semikonservatif, karena masing-masing dari kedua rantai DNA induk bertindak sebagai cetakan/templat untuk pembuatan dua rantai DNA dengan untai ganda yang baru.[1][2]
Replikasi DNA adalah proses penggandaan rantai ganda DNA. Pada sel, replikasi DNA terjadi sebelum pembelahan sel. Prokariota terus-menerus melakukan replikasi DNA. Pada eukariota, waktu terjadinya replikasi DNA sangatlah diatur, yaitu pada fase S siklus sel, sebelum mitosis atau meiosis I. Penggandaan tersebut memanfaatkan enzim DNA polimerase yang membantu pembentukan ikatan antara nukleotida-nukleotida penyusun polimer DNA. Proses replikasi DNA dapat pula dilakukan in vitro dalam proses yang disebut reaksi berantai polimerase (PCR).

Daftar isi

=Garpu replikasi

Garpu replikasi atau cabang replikasi (replication fork) ialah struktur yang terbentuk ketika DNA bereplikasi. Garpu replikasi ini dibentuk akibat enzim helikase yang memutus ikatan-ikatan hidrogen yang menyatukan kedua untaian DNA, membuat terbukanya untaian ganda tersebut menjadi dua cabang yang masing-masing terdiri dari sebuah untaian tunggal DNA. Masing-masing cabang tersebut menjadi "cetakan" untuk pembentukan dua untaian DNA baru berdasarkan urutan nukleotida komplementernya. DNA polimerase membentuk untaian DNA baru dengan memperpanjang oligonukleotida yang dibentuk oleh enzim primase dan disebut primer.
DNA polimerase membentuk untaian DNA baru dengan menambahkan nukleotida—dalam hal ini, deoksiribonukleotida—ke ujung 3'-hidroksil bebas nukleotida rantai DNA yang sedang tumbuh. Dengan kata lain, rantai DNA baru disintesis dari arah 5'→3', sedangkan DNA polimerase bergerak pada DNA "induk" dengan arah 3'→5'. Namun demikian, salah satu untaian DNA induk pada garpu replikasi berorientasi 3'→5', sementara untaian lainnya berorientasi 5'→3', dan helikase bergerak membuka untaian rangkap DNA dengan arah 5'→3'. Oleh karena itu, replikasi harus berlangsung pada kedua arah berlawanan tersebut.
Replikasi DNA. Mula-mula, heliks ganda DNA (merah) dibuka menjadi dua untai tunggal oleh enzim helikase (9) dengan bantuan topoisomerase (11) yang mengurangi tegangan untai DNA. Untaian DNA tunggal dilekati oleh protein-protein pengikat untaian tunggal (10) untuk mencegahnya membentuk heliks ganda kembali. Primase (6) membentuk oligonukleotida RNA yang disebut primer (5) dan molekul DNA polimerase (3 & 8) melekat pada seuntai tunggal DNA dan bergerak sepanjang untai tersebut memperpanjang primer, membentuk untaian tunggal DNA baru yang disebut leading strand (2) dan lagging strand (1). DNA polimerase yang membentuk lagging strand harus mensintesis segmen-segmen polinukleotida diskontinu (disebut fragmen Okazaki (7)). Enzim DNA ligase (4) kemudian menyambungkan potongan-potongan lagging strand tersebut.

Pembentukan leading strand

Pada replikasi DNA, untaian pengawal (leading strand) ialah untaian DNA yang disintesis dengan arah 5'→3' secara berkesinambungan. Pada untaian ini, DNA polimerase mampu membentuk DNA menggunakan ujung 3'-OH bebas dari sebuah primer RNA dan sintesis DNA berlangsung secara berkesinambungan, searah dengan arah pergerakan garpu replikasi.

Pembentukan lagging strand

Lagging strand ialah untaian DNA yang terletak pada sisi yang berseberangan dengan leading strand pada garpu replikasi. Untaian ini disintesis dalam segmen-segmen yang disebut fragmen Okazaki. Pada untaian ini, primase membentuk primer RNA. DNA polimerase dengan demikian dapat menggunakan gugus OH 3' bebas pada primer RNA tersebut untuk mensintesis DNA dengan arah 5'→3'. Fragmen primer RNA tersebut lalu disingkirkan (misalnya dengan RNase H dan DNA Polimerase I) dan deoksiribonukleotida baru ditambahkan untuk mengisi celah yang tadinya ditempati oleh RNA. DNA ligase lalu menyambungkan fragmen-fragmen Okazaki tersebut sehingga sintesis lagging strand menjadi lengkap.

Dinamika pada garpu replikasi

Bukti-bukti yang ditemukan belakangan ini menunjukkan bahwa enzim dan protein yang terlibat dalam replikasi DNA tetap berada pada garpu replikasi sementara DNA membentuk gelung untuk mempertahankan pembentukan DNA ke dua arah. Hal ini merupakan akibat dari interaksi antara DNA polimerase, sliding clamp, dan clamp loader.
Sliding clamp pada semua jenis makhluk hidup memiliki struktur serupa dan mampu berinteraksi dengan berbagai DNA polimerase prosesif maupun non-prosesif yang ditemukan di sel. Selain itu, sliding clamp berfungsi sebagai suatu faktor prosesivitas. Ujung-C sliding clamp membentuk gelungan yang mampu berinteraksi dengan protein-protein lain yang terlibat dalam replikasi DNA (seperti DNA polimerase dan clamp loader). Bagian dalam sliding clamp memungkinkan DNA bergerak melaluinya. Sliding clamp tidak membentuk interaksi spesifik dengan DNA. Terdapat lubang 35A besar di tengah clamp ini. Lubang tersebut berukuran sesuai untuk dilalui DNA dan air menempati tempat sisanya sehingga clamp dapat bergeser pada sepanjang DNA. Begitu polimerase mencapai ujung templat atau mendeteksi DNA berutas ganda (lihat di bawah), sliding clamp mengalami perubahan konformasi yang melepaskan DNA polimerase.
Clamp loader merupakan protein bersubunit banyak yang mampu menempel pada sliding clamp dan DNA polimerase. Dengan hidrolisis ATP, clamp loader terlepas dari sliding clamp sehingga DNA polimerase menempel pada sliding clamp. Sliding clamp hanya dapat berikatan pada polimerase selama terjadinya sintesis utas tunggal DNA. Jika DNA rantai tunggal sudah habis, polimerase mampu berikatan dengan subunit pada clamp loader dan bergerak ke posisi baru pada lagging strand. Pada leading strand, DNA polimerase III bergabung dengan clamp loader dan berikatan dengan sliding clamp.

Replikasi di prokariota dan eukariota

Replikasi DNA prokariota

Replikasi DNA kromosom prokariota, khususnya bakteri, sangat berkaitan dengan siklus pertumbuhannya. Daerah ori pada E. coli, misalnya, berisi empat buah tempat pengikatan protein inisiator DnaA, yang masing-masing panjangnya 9 pb. Sintesis protein DnaA ini sejalan dengan laju pertumbuhan bakteri sehingga inisiasi replikasi juga sejalan dengan laju pertumbuhan bakteri. Pada laju pertumbuhan sel yang sangat tinggi; DNA kromosom prokariota dapat mengalami reinisiasi replikasi pada dua ori yang baru terbentuk sebelum putaran replikasi yang pertama berakhir. Akibatnya, sel-sel hasil pembelahan akan menerima kromosom yang sebagian telah bereplikasi.
Protein DnaA membentuk struktur kompleks yang terdiri atas 30 hingga 40 buah molekul, yang masing-masing akan terikat pada molekul ATP. Daerah ori akan mengelilingi kompleks DnaA-ATP tersebut. Proses ini memerlukan kondisi superkoiling negatif DNA (pilinan kedua untai DNA berbalik arah sehingga terbuka). Superkoiling negatif akan menyebabkan pembukaan tiga sekuens repetitif sepanjang 13 pb yang kaya dengan AT sehingga memungkinkan terjadinya pengikatan protein DnaB, yang merupakan enzim helikase, yaitu enzim yang akan menggunakan energi ATP hasil hidrolisis untuk bergerak di sepanjang kedua untai DNA dan memisahkannya.
Untai DNA tunggal hasil pemisahan oleh helikase selanjutnya diselubungi oleh protein pengikat untai tunggal atau single-stranded binding protein (Ssb) untuk melindungi DNA untai tunggal dari kerusakan fisik dan mencegah renaturasi. Enzim DNA primase kemudian akan menempel pada DNA dan menyintesis RNA primer yang pendek untuk memulai atau menginisiasi sintesis pada untai pengarah. Agar replikasi dapat terus berjalan menjauhi ori, diperlukan enzim helikase selain DnaB. Hal ini karena pembukaan heliks akan diikuti oleh pembentukan putaran baru berupa superkoiling positif. Superkoiling negatif yang terjadi secara alami ternyata tidak cukup untuk mengimbanginya sehingga diperlukan enzim lain, yaitu topoisomerase tipe II yang disebut dengan DNA girase. Enzim DNA girase ini merupakan target serangan antibiotik sehingga pemberian antibiotik dapat mencegah berlanjutnya replikasi DNA bakteri.
Seperti telah dijelaskan di atas, replikasi DNA terjadi baik pada untai pengarah maupun pada untai tertinggal. Pada untai tertinggal suatu kompleks yang disebut primosom akan menyintesis sejumlah RNA primer dengan interval 1.000 hingga 2.000 basa. Primosom terdiri atas helikase DnaB dan DNA primase.
Primer baik pada untai pengarah maupun pada untai tertinggal akan mengalami elongasi dengan bantuan holoenzim DNA polimerase III. Kompleks multisubunit ini merupakan dimer, separuh akan bekerja pada untai pengarah dan separuh lainnya bekerja pada untai tertinggal. Dengan demikian, sintesis pada kedua untai akan berjalan dengan kecepatan yang sama.
Masing-masing bagian dimer pada kedua untai tersebut terdiri atas subunit a, yang mempunyai fungsi polimerase sesungguhnya, dan subunit e, yang mempunyai fungsi penyuntingan berupa eksonuklease 3’– 5’. Selain itu, terdapat subunit b yang menempelkan polimerase pada DNA.
Begitu primer pada untai tertinggal dielongasi oleh DNA polimerase III, mereka akan segera dibuang dan celah yang ditimbulkan oleh hilangnya primer tersebut diisi oleh DNA polimerase I, yang mempunyai aktivitas polimerase 5’ – 3’, eksonuklease 5’ – 3’, dan eksonuklease penyuntingan 3’ – 5’. Eksonuklease 5’ - 3’ membuang primer, sedangkan polimerase akan mengisi celah yang ditimbulkan. Akhirnya, fragmen-fragmen Okazaki akan dipersatukan oleh enzim DNA ligase. Secara in vivo, dimer holoenzim DNA polimerase III dan primosom diyakini membentuk kompleks berukuran besar yang disebut dengan replisom. Dengan adanya replisom sintesis DNA akan berlangsung dengan kecepatan 900 pb tiap detik.
Kedua garpu replikasi akan bertemu kira-kira pada posisi 180 °C dari ori. Di sekitar daerah ini terdapat sejumlah terminator yang akan menghentikan gerakan garpu replikasi. Terminator tersebut antara lain berupa produk gen tus, suatu inhibitor bagi helikase DnaB. Ketika replikasi selesai, kedua lingkaran hasil replikasi masih menyatu. Pemisahan dilakukan oleh enzim topoisomerase IV. Masing-masing lingkaran hasil replikasi kemudian disegregasikan ke dalam kedua sel hasil pembelahan.

Replikasi DNA eukariota

Pada eukariota, replikasi DNA hanya terjadi pada fase S di dalam interfase. Untuk memasuki fase S diperlukan regulasi oleh sistem protein kompleks yang disebut siklin dan kinase tergantung siklin atau cyclin-dependent protein kinases (CDKs), yang berturut-turut akan diaktivasi oleh sinyal pertumbuhan yang mencapai permukaan sel. Beberapa CDKs akan melakukan fosforilasi dan mengaktifkan protein-protein yang diperlukan untuk inisiasi pada masing-masing ori.
Berhubung dengan kompleksitas struktur kromatin, garpu replikasi pada eukariota bergerak hanya dengan kecepatan 50 pb tiap detik. Sebelum melakukan penyalinan, DNA harus dilepaskan dari nukleosom pada garpu replikasi sehingga gerakan garpu replikasi akan diperlambat menjadi sekitar 50 pb tiap detik. Dengan kecepatan seperti ini diperlukan waktu sekitar 30 hari untuk menyalin molekul DNA kromosom pada kebanyakan mamalia.
Sederetan sekuens tandem yang terdiri atas 20 hingga 50 replikon mengalami inisiasi secara serempak pada waktu tertentu selama fase S. Deretan yang mengalami inisasi paling awal adalah eukromatin, sedangkan deretan yang agak lambat adalah heterokromatin. Daerah sentromer dan telomer dari DNA bereplikasi paling lambat. Pola semacam ini mencerminkan aksesibilitas struktur kromatin yang berbeda-beda terhadap faktor inisiasi.
Seperti halnya pada prokariota, satu atau beberapa DNA helikase dan Ssb yang disebut dengan protein replikasi A atau replication protein A (RP-A) diperlukan untuk memisahkan kedua untai DNA. Selanjutnya, tiga DNA polimerase yang berbeda terlibat dalam elongasi. Untai pengarah dan masing-masing fragmen untai tertinggal diinisiasi oleh RNA primer dengan bantuan aktivitas primase yang merupakan bagian integral enzim DNA polimerase a. Enzim ini akan meneruskan elongasi replikasi tetapi kemudian segera digantikan oleh DNA polimerase d pada untai pengarah dan DNA polimerase e pada untai tertinggal. Baik DNA polimerase d maupun e mempunyai fungsi penyuntingan. Kemampuan DNA polimerase d untuk menyintesis DNA yang panjang disebabkan oleh adanya antigen perbanyakan nuklear sel atau proliferating cell nuclear antigen (PCNA), yang fungsinya setara dengan subunit b holoenzim DNA polimerase III pada E. coli. Selain terjadi penggandaan DNA, kandungan histon di dalam sel juga mengalami penggandaan selama fase S.
Mesin replikasi yang terdiri atas semua enzim dan DNA yang berkaitan dengan garpu replikasi akan diimobilisasi di dalam matriks nuklear. Mesin-mesin tersebut dapat divisualisasikan menggunakan mikroskop dengan melabeli DNA yang sedang bereplikasi. Pelabelan dilakukan menggunakan analog timidin, yaitu bromodeoksiuridin (BUdR), dan visualisasi DNA yang dilabeli tersebut dilakukan dengan imunofloresensi menggunakan antibodi yang mengenali BUdR.
Ujung kromosom linier tidak dapat direplikasi sepenuhnya karena tidak ada DNA yang dapat menggantikan RNA primer yang dibuang dari ujung 5’ untai tertinggal. Dengan demikian, informasi genetik dapat hilang dari DNA. Untuk mengatasi hal ini, ujung kromosom eukariota (telomer) mengandung beratus-ratus sekuens repetitif sederhana yang tidak berisi informasi genetik dengan ujung 3’ melampaui ujung 5’. Enzim telomerase mengandung molekul RNA pendek, yang sebagian sekuensnya komplementer dengan sekuens repetitif tersebut. RNA ini akan bertindak sebagai cetakan (templat) bagi penambahan sekuens repetitif pada ujung 3’.
Hal yang menarik adalah bahwa aktivitas telomerase mengalami penekanan di dalam sel-sel somatis pada organisme multiseluler, yang lambat laun akan menyebabkan pemendekan kromosom pada tiap generasi sel. Ketika pemendekan mencapai DNA yang membawa informasi genetik, sel-sel akan menjadi layu dan mati. Fenomena ini diduga sangat penting di dalam proses penuaan sel. Selain itu, kemampuan penggandaan yang tidak terkendali pada kebanyakan sel kanker juga berkaitan dengan reaktivasi enzim telomerase.

Pengaturan replikasi

Rujukan

  1. ^ (Inggris)Geoffrey M. Cooper (2000). The Cell - A Molecular Approach (edisi ke-2). Sunderland (MA): Sinauer Associates. hlm. Heredity, Genes, and DNA. ISBN 0-87893-106-6. Diakses pada 13 Agustus 2010.
  2. ^ (Inggris)Geoffrey M. Cooper (2000). The Cell - A Molecular Approach (edisi ke-2). Sunderland (MA): Sinauer Associates. hlm. Figure 3.8. Semiconservative replication of DNA. ISBN 0-87893-106-6. Diakses pada 13 Agustus 2010.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS
Read User's Comments0